WARTABANJAR.COM, DHAKA - Setelah perdana menteri terguling kabur ke India, Bangladesh juga mengganti Kepala polisi Bangladesh. Sebelumnya, polisi Bangladesh yang garang saat menghadapi unjuk rasa massal, sempat mogok sejak 6 Agustus 2024 lalu. Kepala Kepolisian Bangladesh yang baru diangkat pada tanggal 7 Agustus 2024 segera menyampaikan permintaan maaf atas perilaku petugasnya selama aksi demonstrasi yang mematikan terjadi di seantero negeri. Baca juga:Perdana Menteri Bangladesh Hasina Kabur, Pemenang Nobel Siap Pimpin Pemerintahan Sementara Ia berjanji akan melakukan penyelidikan yang adil atas terbunuhnya warga masyarakat dalam insiden di negara tersebut. “Kami berkomitmen untuk melakukan penyelidikan yang adil dan tidak memihak terhadap setiap pembunuhan yang terjadi baru-baru ini terhadap pelajar, masyarakat umum dan polisi”, kata inspektur jenderal polisi Md Mainul Islam kepada wartawan. “Dalam protes-protes yang terjadi saat ini... para pejabat kami yang bertanggung jawab sebelumnya tidak dapat memenuhi tugas mereka sesuai harapan warga negara,” tambahnya, sehari setelah ia dilantik setelah tergulingnya perdana menteri. “Saya, sebagai kepala polisi, meminta maaf atas nama polisi Bangladesh atas hal itu.” Dia juga mengatakan bahwa dia telah meminta satuan polisi untuk mengakhiri pemogokan mereka dan kembali bertugas pada 8 Agustus, ketika perintis keuangan mikro pemenang Nobel Muhammad Yunus akan kembali ke negara tersebut untuk memimpin pemerintahan sementara. Lebih dari 400 orang tewas dalam bentrokan berminggu-minggu antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan sebelum mantan perdana menteri Sheikh Hasina mengundurkan diri pada 5 Agustus. Di antara 44 jenazah yang dibawa ke Rumah Sakit Dhaka Medical College pada 5 Agustus – hari paling mematikan sejak kerusuhan dimulai pada awal Juli – banyak dari mereka adalah pria muda dan hampir semuanya mengalami luka tembak. Baca juga:Gerakan Mahasiswa Bangladesh Ultimatum Pembentukan Pemerintahan Baru Sejak Hasina melarikan diri, polisi melaporkan massa melancarkan serangan balas dendam terhadap sekutunya, serta kantor polisi dan petugas. Serikat polisi mengatakan anggotanya melakukan mogok kerja pada 6 Agustus sampai keamanan terkendali dan 'keamanan petugas terjamin'.(pwk) Editor: purwoko