BPS Sebut Alasan Harga Beras di 8 Provinsi Termasuk Kalteng Susah Turun Karena Sebab ini
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN- Badan Pusat Statistik (BPS) menyebut harga beras di sejumlah provinsi, termasuk di Kalimantan Tengah susah turun.
BPS mencatat harga beras di Indonesia akhirnya mengalami penurunan di 28 provinsi pada April 2024, kecuali di 8 provinsi, setelah mengalami inflasi selama 8 bulan.
Penurunan beras terjadi di 28 provinsi dan memberikan andil deflasi hingga 0,12% selama bulan April ini.
Plt Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di kantornya, Jakarta, Kamis (2/5/2024), mengatakan bahwa turunnya harga beras itu salah satunya dipicu oleh dimulainya panen raya di Indonesia.
Meski demikian, BPS juga mencatat bahwa harga beras masih mengalami inflasi di 8 provinsi lainnya yaitu Papua Barat Daya, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kepulauan Riau, Provinsi Riau, Papua Barat, Papua dan Maluku Utara.
Amalia mengatakan kenaikan harga beras di sejumlah provinsi itu dipicu oleh pola konsumsi beras yang bervariasi di wilayah-wilayah tersebut.
Selain itu ada pula pola tanam dan panen padi yang juga bervariasi.
"Ini yang menyebabkan perbedaan struktur permintaan dan suplai beras antar wilayah. Meskipun secara nasional terjadi panen raya, tapi tidak semua wilayah mengalami penurunan beras," ucapnya.
Amalia melanjutkan, BPS juga mencatat terdapat preferensi di sejumlah wilayah yang lebih suka dengan merek-merek beras lokal, misalnya suku Minang yang tinggal di wilayah Riau dan sekitarnya lebih menyukai varietas beras Solok, kemudian penduduk Kalimantan juga lebih memilih mengkonsumsi varietas beras lokal mereka.
"Pola konsumsi ini cenderung inelastis, yaitu pasokan dari luar wilayah di masa panen seperti sekarang, tidak serta merta mampu menekan harga beras lokal. Terlebih jika sisi produksi beras lokal belum meningkat sehingga jika terjadi permintaan terhadap beras lokal masih tinggi dan kecenderungan preferensi beras lokal itu tidak otomatis dapat diganti dari beras luar wilayah, sehingga beras lokal bisa saja tetap tinggi meskipun secara nasional kita masuk panen raya," sebutnya. (berbagai sumber)
Editor: Yayu