“Pertengkaran terjadi dan mereka kembali dengan massa yang lebih besar bersenjatakan batu, pipa besi dan menyerang kami. Mereka mengamuk di asrama, menyerang siswa di kamar mereka dan merusak properti dan kendaraan,” katanya.
Hal senada juga disampaikan rekannya Noman, bahwa kejadian serupa pernah terjadi sebelumnya. Dirinya menyebut, pelajar dari negara lain beresiko mengalami insiden serupa di sana.
“Ada banyak risiko di sini bagi pelajar dari negara lain,” ujarnya.
Menurut aparat setempat, ada sekitar 300 mahasiswa asing yang menempuh pendidikan di Gujarat. Umumnya mereka berasal dari Afghanistan, Sri Lanka dan negara-negara Afrika .
Pihak kepolisian juga menyebut, para mahasiswa yang terluka berada di India dengan beasiswa dari Dewan Hubungan Kebudayaan India yang didukung pemerintah federal.
Wakil Rektor Universitas Gujarat, Dr Neerja A Gupta membenarkan jika akhir pekan lalu telah terjadi ketegangan antara mahasiswa asing dan para penyerang selama beberapa waktu.
“Sesuai informasi yang saya miliki, (doa) ini bukanlah isu utama,” katanya kepada wartawan.
Pihaknya berjanji memindahkan para mahasiswa asing itu ke asrama baru dengan keamanan dan fasilitas yang lebih baik. Pasalnya, insiden seperti ini bukan pertama kalinya terjadi terkait ibadah umat Islam di India.
Pada tahun 2021, umat Islam yang melaksanakan shalat di tempat-tempat umum di Gurgaon sering menghadapi gangguan dan protes dari anggota kelompok garis keras Hindu.
Awal bulan ini, seorang polisi di Delhi diskors setelah dia tertangkap kamera sedang menendang pria Muslim yang sedang shalat di pinggir jalan. (Sidik Purwoko)
Editor: Sidik Purwoko







