WARTABANJAR.COM, TEL AVIV - Tindakan agresi pemerintahan Banjamin Netanyahu tidak sepenuhnya didukung warga Israel. Ribuan warga Israel pada Sabtu (27/1/2024) melakukan aksi demonstrasi di sejumlah kota besar untuk menuntut pembubaran pemerintah, bersamaan dengan aksi protes keluarga sandera yang ditahan di Gaza di depan kediaman Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. Dikutip dari Harian Yedioth Ahronoth Minggu (28/1/2024), ribuan warga Israel melakukan aksi protes di kota Haifa, di persimpangan Horev untuk menentang pemerintah dan menuntut pemilu segera dilakukan. Baca juga: Ketua DPRD Kalsel Datangi 16 Desa di Balangan dan Tabalong, Warga Keluhkan PJU Hingga Tempat Ibadah Aksi tersebut dimulai dari kawasan Carmel di kota Haifa ke pusat protes di persimpangan Horev. Para pengunjuk rasa menuntut pemecatan Benjamin Netanyahu dan pemilu segera. Ratusan warga juga berdemo di kota Ra'anana dekat Tel Aviv dengan menyerukan pembubaran pemerintah. Netanyahu saat sedang menghadapi serangan kritik dari rakyat Israel dan beberapa politisi akibat krisis sandera Israel di Gaza dan gagal menemukan cara untuk memastikan keamanan mereka kembali ke Israel. Genosida  Perang brutal Israel di Gaza mengancam akan mengakhiri keberadaan umat Kristen Palestina di wilayah kantong tersebut dan Tepi Barat yang diduduki, kata Pendeta Munther Isaac dari Gereja Natal Lutheran Injili di Betlehem. Tampil di acara “Frankly Speaking,” acara mingguan Arab News, pendeta Palestina tersebut tidak berbasa-basi saat berbicara tentang berbagai topik mulai dari posisi Gereja dalam konflik hingga apakah Barat mulai menentang Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. “Ini adalah genosida. Israel memberi tahu dunia apa yang mereka lakukan, apa yang ingin mereka lakukan, dan fakta sudah membuktikannya,” katanya. “Bagaimana pembunuhan ribuan anak untuk membela diri? Bagaimana hubungannya dengan 7 Oktober? Bagaimana perpindahan hampir 2 juta orang untuk membela diri?” Militan yang dipimpin oleh kelompok Palestina Hamas membunuh sekitar 1.300 orang, sebagian besar warga sipil, dalam serangan yang belum pernah terjadi sebelumnya terhadap komunitas Israel selatan pada 7 Oktober tahun lalu. 250 orang lainnya disandera, menurut Israel. Baca juga: Pertemuan Tertutup Jokowi dengan Sri Sultan HB X Berlangsung Satu Jam Peristiwa tersebut memicu serangan balasan Israel di Gaza, yang telah menewaskan lebih dari 26.000 warga Palestina, menurut pejabat kesehatan setempat, dan membuat sebagian besar wilayah kantong itu menjadi puing-puing. “Menjadi jelas bagi kami, terutama sebagai warga Palestina, dalam beberapa minggu pertama perang, bahkan dalam hitungan hari, bahwa ini adalah upaya untuk mengakhiri kehidupan di Gaza seperti yang kita ketahui,” kata Isaac dilansir Arab News. Perang ini mempunyai dampak besar di luar Gaza, dimana puluhan ribu umat Kristen yang tinggal di Tepi Barat juga menderita, tambah Isaac. (berbagai sumber) Editor: Erna Djedi