Kesadaran Warga Meningkat, Kini Tepi Jalan Desa Tanjung Rema Bebas dari Tumpukan Sampah
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA– Keberhasilan Desa Tanjung Rema dalam mengelola sampah patut diapresiasi.
Pasalnya, sejak Juli 2023, Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman, dan Lingkungan Hidup Kabupaten Banjar sudah berhenti menjemput sampah yang sering bersarang di tepi-tepi jalan, termasuk Jalan Tanjung Rema.
Kepala Desa Tanjung Rema, Madraji mengungkap, keberhasilan ini adalah wujud dari solidaritas warga dalam menanggulangi sampah.
“Ini semua bentuk sokongan warga yang sudah bisa mengelola sampah dan tidak membuangnya sembarangan lagi,” ungkapnya, Minggu (26/11/2023).
Madraji juga sering berjaga malam bersama beberapa warga, karena yang membuang sampah di tepi jalan Tanjung Rema kebanyakan bukan warga desanya.
“Kalau kedapatan kami, kami suruh bawa pulang sampahnya,” ucapnya.
Sebagai Kepala Desa Tanjung Rema, ia sangat mengapresiasi kerja sama warga dalam menanggulangi sampah rumah tangga.
“Warga kita hebat. Karena sudah merasa nyaman tidak ada sampah di tepi jalan, akhirnya mereka terbiasa untuk tidak buang sampah sembarangan, dan berani menegur yang buang sampah di tepi jalan,” tambahnya.
Meskipun sampah tidak bisa dihilangkan karena selalu diproduksi setiap hari, ia berharap warga semakin teredukasi dalam mengelola sampah dan pembuangannya.
Di Desa Tanjung Rema, pengangkutan sampah dikelola oleh RT masing-masing yang bekerja sama dengan Bumdes Tanjung Rema Maju.
[caption id="attachment_196242" align="alignnone" width="300"]
TPS di Desa Tanjung Rema, Kabupaten Banjar saat dipenuhi oleh sampah. Foto: istimewa[/caption]
Prosedur pengangkutan sampah pun berbeda-beda setiap RT-nya.
Seperti di RT 1, sampah akan diangkut tiap dua hari sekali pada malam hari sehingga aktivitas pada siang hari tidak akan terganggu oleh aroma-aroma tak sedap.
Para warga harus menaruh sampah di depan rumah masing-masing.
Meskipun berbayar, para warga senang karena tidak perlu repot keluar rumah untuk membuangnya.
“Hasil kesepakatan bersama, di sini biaya sampah per bulannya Rp20 ribu. Menurut saya itu tak memberatkan, lebih memudahkan daripada harus ke TPS,” ujar salah satu warga RT 1, Edie.
Tidak hanya itu, para warga juga dihimbau untuk memisahkan sampah kering dan basah serta membungkus sampah berbahaya seperti pecahan kaca dengan benar untuk memudahkan para pengangkut sampah. (nurul octaviani)
Editor: Yayu
TPS di Desa Tanjung Rema, Kabupaten Banjar saat dipenuhi oleh sampah. Foto: istimewa[/caption]
Prosedur pengangkutan sampah pun berbeda-beda setiap RT-nya.
Seperti di RT 1, sampah akan diangkut tiap dua hari sekali pada malam hari sehingga aktivitas pada siang hari tidak akan terganggu oleh aroma-aroma tak sedap.
Para warga harus menaruh sampah di depan rumah masing-masing.
Meskipun berbayar, para warga senang karena tidak perlu repot keluar rumah untuk membuangnya.
“Hasil kesepakatan bersama, di sini biaya sampah per bulannya Rp20 ribu. Menurut saya itu tak memberatkan, lebih memudahkan daripada harus ke TPS,” ujar salah satu warga RT 1, Edie.
Tidak hanya itu, para warga juga dihimbau untuk memisahkan sampah kering dan basah serta membungkus sampah berbahaya seperti pecahan kaca dengan benar untuk memudahkan para pengangkut sampah. (nurul octaviani)
Editor: Yayu