Penembak Shinzo Abe Didakwa Kasus Pembunuhan Usai Jalani 6 Bulan Evaluasi Mental
WARTABANJAR.COM, TOKYO- Pelaku penembakan mantan Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe, Tetsuya Yamagami didakwa dengan kasus pembunuhan oleh jaksa penuntut umum, Jumat (13/1/2023).
Tersangka Tetsuya Yamagami akan menjalani proses peradilan di pengadilan Jepang.
Yamagami segera ditangkap setelah ia menembak Abe dengan senjata rakitan pada 8 Juli 2021 lalu saat Abe tengah memimpin pidato kampanye di luar stasiun kereta api Nara di Jepang barat.
Usai pembunuhan itu, Yamagami dikirim ke pusat penahanan Osaka untuk evaluasi mental selama hampir enam bulan yang berakhir Selasa (10/1/2023) lalu.
Yamagami kemudian kembali ke tahanan polisi di Nara.
Jaksa mengatakan, bahwa hasil evaluasi mentalnya menunjukkan Yamagami layak untuk diadili.
Menurut pengadilan distrik Nara, Yamagami juga didakwa melanggar undang-undang pengendalian senjata.
Polisi mengatakan Yamagami mengaku membunuh Abe karena hubungan Abe yang jelas dengan kelompok agama yang dia benci.
Dalam pernyataannya dan diposting media sosial yang dikaitkan dengannya, Yamagami mengatakan dia dendam karena ibunya telah memberikan sumbangan besar-besaran ke Gereja Unifikasi yang membuat keluarganya bangkrut sehingga menghancurkan hidupnya.
Seorang pengacaranya, Masaaki Furukawa, mengatakan bahwa Yamagami dalam keadaan sehat selama pemeriksaan mentalnya di Osaka.
Ia hanya diizinkan untuk menemui saudara perempuannya dan tiga pengacara selama masa pemeriksaan.
Furukawa mengatakan persidangannya adalah kasus serius dan melibatkan panel juri warga.
"Karena rumitnya kasus ini, dibutuhkan setidaknya beberapa bulan sebelum persidangannya dimulai," katanya.
Polisi juga dilaporkan mempertimbangkan untuk menambahkan beberapa tuduhan, termasuk produksi senjata, pelanggaran hukum pengendalian bahan peledak dan menyebabkan kerusakan bangunan.
Beberapa orang Jepang telah menyatakan simpati untuk Yamagami, terutama mereka yang juga menderita sebagai anak-anak pengikut Gereja Unifikasi yang berbasis di Korea Selatan.
Gereja itu dikenal menekan penganutnya untuk memberikan sumbangan besar dan dianggap sebagai aliran sesat di Jepang.
Ribuan orang telah menandatangani petisi meminta keringanan hukuman untuk Yamagami, dan yang lainnya telah mengirimkan paket perawatan ke kerabatnya atau pusat penahanan.