“Saya bersiap untuk yang terburuk,” tuturnya, dikutip dari Reuters.
Selain panic buying, beberapa pusat kebugaran di kota itu juga membatalkan kelas mereka atau menutup tokonya.
Tak hanya itu, Beijing menerapkan kontrol ketat terkait pengunjung yang ingin masuk ke kota itu.
Pengunjung diharuskan memiliki hasil tes negatif Covid-19 dalam jangka waktu 48 jam.
Distrik Chaoyang sendiri merupakan penyumbang kasus Covid-19 terbesar di Kota Beijing.
Sejak Jumat (22/4/2022), Beijing telah melaporkan 47 kasus Covid-19 lokal, di mana lebih dari setengahnya berasal dari Chaoyang.
Akibat banyaknya kasus tersebut, pemerintah tengah melangsungkan tes massal di Chaoyang, Senin (25/4/2022).
Tes tersebut dilakukan mengingat kemungkinan virus corona telah ‘diam-diam’ menyebar sepekan sebelum terdeteksi, dikutip dari Reuters.
“Virus saat ini menyebar secara diam-diam dari sumber yang tak diketahui dan terus meningkat pesat,” demikian pernyataan dari pemerintah Beijing, Minggu (24/4/2022).
Sementara itu, terlihat beberapa warga menyuarakan kekhawatiran mereka atas kemungkinan lockdown ini.
“Jika satu kasus ditemukan, area ini bisa terdampak,” ujar salah satu pekerja kantoran, Yao Leiming, yang tengah menuju tempat tes massal di Chaoyang bersama sekelompok koleganya.
Meski angka itu terbilang kecil, pemerintah Chaoyang mendesak masyarakat untuk mengurangi aktivitas publik dan menghentikan les privat tatap muka.
Walaupun demikian, kebanyakan sekolah, toko, dan kantor di kota itu masih dibuka. (berbagai sumber)