WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Pemerintah Kota Banjarbaru melalui Satpol PP, TNI-Polri dan jajaran melaksanakan penertiban bangunan di lahan eks Pasar Bauntung, Jalan Kemuning, Kelurahan Kemuning, Kecamatan Banjarbaru Selatan, Selasa (15/2/2022) pagi.

Penertiban yang dipimpin oleh Kepala Satpol PP Kota Banjarbaru Hidayaturahman SSos MSi berlangsung dengan lancar.

"Ada 32 bangunan yang akan diratakan dengan tanah oleh petugas. Di mana bangunan yang berdiri ini dilahan aset Pemerintah Kota Banjarbaru bersifat Hak Guna Bangunan (HGB)," jelasnya.

Dia melanjutkan, “Kita melaksanakan kegiatan penertiban bangunan di lahan eks pasar bauntung milik Pemko Banjarbaru, jadi hari ini ada beberapa bangunan yang masih berdiri milik masyarakat dan ini kita tertibkan. Ada 32 bangunan yang akan kita tertibkan.”

Mengenai pembongkaran bangunan eks Pasar Bauntung, Hidayaturahman juga menyampaikan bahwa masyarakat yang memiliki bangunan disini, sudah mengakui lahan yang mereka tempati adalah milik Pemkot Banjarbaru.

Namun saat dilakukan pembongkaran ada sebagian masyarakat yang belum mengosongkan bangunannya.

“Memang ada sebagian yang belum mengosongkan, tetapi insyaAllah hari ini mereka yang masih ada kita bantu untuk mengosongkan. Karena belum sempat mengangkut barang-barangnya untuk dipindahkan ke tempat keluarga mereka masing-masing,” tuturnya.

Ketika ditanya awak media apakah ada protes dari masyarakat, Kasatpol PP Kota Banjarbaru mengakui hampir tidak ada yang protes dari masyarakat.

“Secara umum hampir tidak ada (protes), hanya penyampaian-penyampaian saja dan itu kita berikan penjelasan bahwa ini memang sudah terakhir langkah kita, karena sudah dilakukan tahapan mediasi dan sebagainya.” Jelasnya.

Saat berlangsungnya pembongkaran eks Pasar Bauntung menuai tanggapan masyarakat, seperti salah satu warga yang memiliki bangunan tersebut, Iman, yang masih menempati bangunan, mengakui masih keberatan karena tali asih dari Pemkot Banjarbaru sebanyak Rp5 juta dinilai masih kurang.

“Kalau masyarakat belum ada yang menerima lagi kayanya, masalahnya tali asih awalnya 3 juta, terus dinaikkan 5 juta. Masyarakat tetap merasa keberatan tali asih sebanyak 5 juta karena dengan kehidupan yang sekarang sangat kurang untuk memenuhi biaya sehari-hari,” ujarnya