“Ia menyukai keju, peminum berat, ia juga mendapatkan akses yang mudah ke seluruh makanan cepat saji,” kata seorang dosen Institut Studi Korea di University of Central Lancashire, Sojin Lim dilansir dari Metro, Jumat (21/1/2022).
Namun karena penutupan perbatasan akibat pembatasan COVID-19 ini, Kim Jong Un tak bisa lagi mendatangkan semua makanan dan minuman favoritnya itu ke Korut.
Selain itu, Lim menduga Kim tetap kurus juga demi melindungi citranya di masyarakat, mengingat Korut kini menghadapi kelaparan.
“Jika dia mempertahankan penampilan itu (gemuk), itu hanya akan menambah keluhan masyarakat,” ungkapnya lagi.
Lim juga menilai penurunan berat badan Kim ini juga untuk menunjukkan ia ‘berempati’ kepada masyarakat.
“Ini menunjukkan pada warga, ‘saya bersama kalian, saya tidak mengambil seluruh makanan ini untuk saya sendiri,’ saya seperti kamu, saya juga menderita,” tuturnya.
Dalam beberapa foto yang muncul, Kim terlihat semakin kurus.
Otoritas Korut mengklaim Kim makan lebih sedikit demi negaranya yang kini sedang mengalami kekurangan makan dan pembatasan karena pandemi COVID-19.
Strategi nol-Covid Korut juga dinilai menjadi salah satu penyebab negara ini kekurangan makanan.
Jalur perdagangan Korut dengan mitra internasional satu-satunya, yakni China, sempat terputus selama bertahun-tahun.
Akibatnya, warga harus mengalami kekurangan pangan dan produk lain, seperti minyak goreng dan ban. (brs/berbagai sumber)
Editor: Yayu Fathilal







