WARTABANJAR.COM, BANJARMASIN-Putra pasangan selebriti Ray Sahetapy dan Dewi Yull, Panji Surya Putra Sahetapy baru saja menyelesaikan pendidikan S1-nya di Rochester Institute of Technology ( RIT), di Kota New York, Amerika Serikat.

Dia diwisuda dan momen kelulusan itu disiarkan secara langsung oleh pihak kampusnya karena masih pandemi COVID-19.

Keluarganya di Indonesia bisa menyaksikannya langsung secara virtual saja, termasuk sang bunda, Dewi Yull.

Demi menyaksikan momen bersejarah ini, Dewi Yull sampai rela begadang alias tidak tidur karena adanya perbedaan waktu antara Amerika Serikat dan Indonesia.

Dewi Yull mengunggah kegiatannya menonton wisuda virtual itu di Instagramnya, Minggu (16/5/2021).

Dia bangga karena sang putra yang merupaka seorang difabel bisa lulus dengan predikat cum laude.

"Ga tidur nunggu wisuda resmi Alhamdulillah ya Allah ...terima kasih sayangku @suryasahetapy sudah lulus dengan predikat Cum Laude .
#proudofyou. nonton dan videokan dengan ngantuk2 tapi bahagia bersyukur ya Allah. Manfaat ilmunya sayang.Aamiin ya Rabbana," tulisnya.

View this post on Instagram

A post shared by Raden Adjeng Dewi Pudjijati (@dewiyullofficial)

Bagi Dewi Yull ini merupakan berkah dan hadiah Idul Fitri tahun ini untuknya sekeluarga.

Kebahagian serupa juga diunggah oleh Ray Sahetapy di Instagramnya.

View this post on Instagram

A post shared by Ray Sahetapy (@raysahetapy)

Dikutip dari berbagai sumber, Surya Sahetapy tak hanya dikenal sebagai anak pasangan selebriti ternama Indonesia, tetapi juga pemuda yang memiliki kekurangan (difabel) namun di tengah kekurangannya itu dia juga mempunyai berbagai kelebihan yang membuatnya bahkan dilirik Presiden Joko Widodo untuk dijadikan staf khusus kepresidenan setelah selesai kuliahnya.

Berikut ini profilnya.

1. Tuli sejak kecil

Pria kelahiran 21 Desember 1993 ini divonis tuli sejak usianya 2 tahun.

Walau begitu, keterbatasan tersebut tak membuatnya menyerah.

Ia pun belajar berkomunikasi dengan membaca gerak bibir lawan bicaranya.

Surya kemudian membuktikan walaupun tak bisa mendengar, ia mampu menguasai Bahasa Indonesia lisan maupun isyarat, bahasa isyarat internasional, serta bahasa Inggris tulis.

2. Seorang aktivis

Berita Sebelumnya 100 Ribu Kendaraan Keluar Masuk Perbatasan Banjarmasin-Batola 
Berita Selanjutnya Siap-siap, 1.000 Orang Disasar pada Gebyar Jumat Vaksinasi Covid-19 Banjarmasin