Guru Wildan bahkan menegaskan bahwa Rasulullah juga mencotohkan bersiyasah atau berpolitik demi menyerukan kebenaran atau haq.
āAdapun ulama berpolitik itu boleh. Politik atau dalam bahasa Arabnya siyasah. Tidak ada satupun ulama yang mengharamkan bersiyasah. Yang tidak diboleh itu berpolitik buruk. Rasulullah saja bersiyasah dalam peperangan,ā tegas Guru Wildan.
Guru Wildan kemudian memaparkan mengapa dia merasa wajib berpesan kepada para muridnya di Darussalam agar mendukung Paman Birin. Sebab Guru Wildan melihat ada pihak yang secara kasat mata gencar mempergunakan politik fitnah yang membahayakan masyarakat Kalsel menjelang pelaksanaan PSU.
āJelang PSU ini ada yang gencar melakukan politik fitnah. Maka sudah menjadi tugas para guru dan pemuka agama untuk menjaga masyarakat dari pengaruh politik fitnah. Sebab politik fitnah paling berbahaya karena menebar kebencian terhadap pihak lain, atau menebar kebohongan supaya muncul kebencian dan merugikan orang lain,ā tegas Guru Wildan.
Guru Wildan memberi contoh fitnah yang diviralkan bahwa Habib Hasan Abdurrahaman telah mendukung paslon tertentu, sehingga belakangan Habib Hasan terpaksa meluruskan fakta dan terpaksa menyampakan secara terbuka mendukung Paman Birin. Juga fitnah lain yang diviralkan mengenai Guru Haji Abdul Muin Dalam Pagar yang seolah telah hijrah ke paslon tertentu.
āBapak mertua saya (Guru Haji Abdul Muin) dikabarkan telah mendukung paslon tertentu. Padahal faktanya tidak seperti itu. Pada malam nisfu syaban itu, mereka tiba-tiba datang ikut pengajian. Keluarga mertua tentu saja tidak bisa melarang orang mau ikut pengajian. Padahal sebagai tamu, adabnya mereka bertelepon terlebih dulu kepada tuan rumah untuk minta izin. Ini tidak minta izin, tiba-tiba datang ikut pengajian, kemudian sebelum pulang foto-foto. Hal yang membuat keluarga mertua marah, ternyata foto dipergunakan untuk bahan fitnah seolah mertua mendukung mereka,ā kata Guru Wildan.