Ia pun kembali sibuk berdakwah di seluruh pelosok Nusantara, bahkan majelis dakwahnya meluas ke mancanegara seperti Singapura, Malaysia, Kamboja, dan negara lainnya.
Selain berdakwah, dalam perjalanannya selalu cermat dan tekun mengumpulkan sejarah perkembangan Islam di daerah, misalnya di Ternate, Maluku, Ambon, Sulawesi, Kalimantan, Nusa Tenggara, Timor Timur, Pulau Roti, Sumatera, Pulau Jawa. Catatan itu kemudian ditulis dalam kitab-kitabnya.
Siapa pun yang membaca akan semakin mengetahui sejarah perjuangan dan islam, sehingga akan membuat pembacanya semakin cinta Tanah Air.
Bukti nasionalisme lain dari beliau adalah dapat dilihat dari berbagai karyanya yang selalu menambahkan ‘Al-Indunisiy’ di akhir namanya.
Nama beliau selalu tertulis dengan kalimat Allamah Al-Muhaddits As-Sayyid Salim bin Ahmad bin Jindan Al-Alawiy Al-Husainiy Al-Indunisiy.
Dengan kepiawaian beliau dalam berdakwah, Islam kelihatan sangat sejuk dan damai. Karena itu banyak orang non-Islam yang akhirnya memeluk Islam dengan wasilah setelah bertukar pikiran dengan Habib Salim Habib Salim dan mendegarkan ceramahnya.
Selain mendakwahkan Cinta Tanah Air, ada dua hal lain juga yang paling beliau dakwahkan, yaitu tentang pentingnya meninggalkannya yaitu pornografi dan kemaksiatan.
Beliau wafat di Jakarta pada 16 Rabiul Awal 1389 H atau 1 Juni 1969 M. Ketika itu ratusan ribu kaum Muslimin dari berbagai pelosok negeri dan dunia. Jasadnya dimakamkan di dalam kubah di kompleks pemakaman Al-Hawi, Cililitan, Jakarta Timur. (*)