WARTABANJAR.COM – Biasanya, kalau ada satu masalah, kita berharap penjelasan dari pejabat bisa bikin jelas. Tapi dalam kasus yang satu ini, kok malah bikin tambah bingung, ya? Satu bilang A, satu lagi bilang B. Jadinya publik cuma bisa geleng-geleng kepala.
Beberapa waktu lalu, tepatnya pada Minggu (6/7/2025) publik dihebohkan dengan video mobil dinas milik Polres Tapanuli Selatan yang dikendarai seorang remaja 16 tahun di Kota Medan. Di dalam mobil itu juga ada seorang perempuan dewasa. Mereka sempat menabrak kendaraan lain, lalu kabur.
Masalah makin besar saat diketahui bahwa mobil itu milik Plh Kasi Propam Polres Tapsel, seorang perwira polisi. Tapi yang bikin ramai bukan cuma karena mobil dinas dipakai anak-anak, tapi karena ada dua versi cerita dari dua pejabat berbeda.
Pertama, dari Kabid Humas Polda Sumut, Kombes Ferry Walintukan. Ia bilang, perempuan yang ada di dalam mobil itu adalah guru dari si anak. Tapi beberapa hari kemudian, pernyataan berbeda muncul dari Kapolres Tapanuli Selatan, AKBP Yasir Ahmadi. Menurut dia, perempuan itu adalah pacar si anak.
Lho? Jadi yang benar yang mana? Guru atau pacar?
Perbedaan pernyataan ini bikin publik makin curiga dan bertanya-tanya. Apakah ini murni miskomunikasi, atau ada yang coba ditutupi?
Ini bukan cuma soal mobil dinas yang disalahgunakan. Tapi juga soal transparansi dan konsistensi informasi dari aparat. Kalau dua perwira bisa kasih keterangan yang beda soal hal sepenting ini, bagaimana masyarakat bisa percaya?
Yang dibutuhkan publik itu sederhana yaitu kejelasan, bukan jawaban yang berubah-ubah. Karena setiap kata dari pejabat publik itu punya bobot. Dan kalau kata-kata itu mulai membingungkan, maka kepercayaan juga pelan-pelan ikut hilang.(vri/berbagai sumber)

