Kasus ISPA di Kabupaten Banjar Tembus 13.996, Sungai Tabuk dan Martapura Terbanyak
WARTABANJAR.COM, MARTAPURA - Dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta musim kemarau di Kabupaten Banjar, kian mengancam kesehatan masyarakat.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banjar mencatat sebanyak 13.996 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) terjadi sepanjang periode Juli hingga 10 Oktober 2026.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Banjar, Hj Mariana, mengatakan berdasarkan data sebaran wilayah, Kecamatan Sungai Tabuk menjadi daerah dengan laporan kasus ISPA tertinggi, yakni mencapai 2.877 kasus.
”Posisi berikutnya disusul oleh Kecamatan Martapura dengan 1.900 kasus dan Kecamatan Kertak Hanyar sebanyak 1.392 kasus,” ujarnya saat dikonfirmasi, Kamis (22/10/2026).
Mariana menjelaskan, akumulasi belasan ribu kasus tersebut dihimpun dari laporan fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) di seluruh kecamatan.
”Ini menjadi bahan pemantauan intensif situasi kesehatan masyarakat kami,” tambahnya.
Mariana menerangkan, tingginya angka kasus di kecamatan seperti Sungai Tabuk dan Martapura, berbanding lurus dengan tingginya laporan dari fasyankes setempat.
Baca Juga: GOW Kabupaten Banjar Sosialisasikan Pemberdayaan Perempuan kepada 22 Organisasi
Baca Juga: BPAM Banjarbakula Rampungkan Perbaikan Pipa Bocor di Sungai Landas Kabupaten Banjar
”Di tingkat puskesmas, Puskesmas Martapura 1 mencatatkan laporan terbanyak dengan melayani 1.537 kasus ISPA,” jelasnya.
Namun, ancaman kesehatan selama musim kemarau ini, tidak berhenti pada ISPA biasa. Data Dinkes Banjar menunjukkan kasus Diare merangkak naik dari 608 kasus pada Juli, menjadi 630 kasus pada Agustus, dan melonjak hingga 740 kasus pada September 2026.
Serupa dengan diare, Mariana mengungkapkan kasus Pneumonia yang tergolong kelompok ISPA berat juga mengalami kenaikan setiap bulannya.
”Dari 134 kasus pada Juli, naik menjadi 147 kasus di bulan Agustus, dan melompat menjadi 223 kasus pada September 2026. Memang menunjukkan tren peningkatan seiring musim kemarau,” paparnya.
”Faktor penyebabnya masih memerlukan penilaian lebih lanjut, namun perkembangan ini terus kami awasi secara ketat,” pungkasnya. (wartabanjar.com)