WARTABANJAR.COM, TANJUNG- Masyarakat Desa Masingai II, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong, Kalimantan Selatan, kembali menggelar tradisi rutin tahunan menyambut 1 Muharam atau 1 Suro.
Tradisi yang telah dilaksanakan sejak 1978 atau sekitar 48 tahun lalu itu menjadi bagian dari upaya menjaga dan melestarikan warisan budaya leluhur.
Rangkaian kegiatan diawali pada malam 1 Suro dengan menggelar selamatan dan tirakat hingga menjelang subuh.
Kegiatan tersebut diisi dengan doa bersama sebagai bentuk ikhtiar memohon kesehatan, kelancaran rezeki, serta keselamatan dunia dan akhirat pada tahun yang akan datang.
Ketua Paguyuban Kuda Lumping Kridho Mudho Desa Masingai II, Maryadi, mengatakan tradisi tersebut merupakan agenda tahunan yang selalu dinantikan masyarakat.
“Pada malam satu suro kami mengadakan selamatan dan tirakat sampai pagi hari. Tujuannya untuk memohon kemudahan, kesehatan, rezeki dan keselamatan bagi seluruh masyarakat,” ujarnya pada wartabanjar.com, Rabu (17/6/2026).
Keesokan harinya, masyarakat melaksanakan ritual “Mandi Jamas”, yakni memandikan atau membersihkan berbagai benda pusaka serta peralatan seni budaya tradisional seperti gamelan, kuda lumping, dan perlengkapan kesenian lainnya.
Rangkaian peringatan kemudian ditutup dengan pagelaran seni Kuda Lumping Kridho Mudho yang berlangsung mulai pukul 14.00 Wita hingga tengah malam.
Pertunjukan tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga memiliki nilai sakral karena menampilkan tarian khusus yang hanya dipentaskan pada momentum 1 Suro atau ketika ada masyarakat yang bernazar.







