Wanita India Disorot dan Dihujat Warga Singapura, Usai Kecelakaan Tragis Tewaskan Bocah Indonesia
WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Musibah tragis menimpa sebuah keluarga wisatawan asal Indonesia saat berlibur di Singapura. Seorang bocah perempuan dilaporkan meninggal dunia setelah tertabrak mobil di kawasan Chinatown, tepatnya di sekitar Buddha Tooth Relic Temple, pada Kamis (6/2/2026).
Insiden memilukan ini tak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memicu gelombang kemarahan publik lintas negara, menyusul dugaan sikap tidak berempati yang ditunjukkan oleh pengemudi mobil.
Peristiwa tersebut pertama kali mencuat ke publik melalui kesaksian seorang warga Vietnam yang berada di lokasi kejadian. Dalam unggahan berbahasa Vietnam yang kemudian viral dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, saksi mata itu mengungkap detik-detik kecelakaan yang menimpa seorang ibu dan anak asal Indonesia.
Menurut kesaksian tersebut, korban—seorang ibu dan anak—saat itu sedang menyeberang jalan untuk menghampiri sang ayah yang telah menunggu di seberang.
Di saat bersamaan, sebuah mobil yang dikemudikan seorang perempuan berusia 38 tahun diketahui hendak keluar dari area parkir. Namun, pengemudi disebut tidak melakukan pengecekan menyeluruh ke arah kanan, meski kendaraan akan berbelok ke arah tersebut.
Roda depan mobil dilaporkan menghantam bagian perut sang anak serta kaki ibunya. Tragisnya, alih-alih langsung berhenti, kendaraan justru kembali melaju dan kembali menghantam tubuh sang ibu hingga ia terjatuh dan tidak sadarkan diri. Sementara itu, sang anak terlihat berlumuran darah setelah terlindas mobil yang dikemudikan perempuan asal India tersebut.
Sang ayah yang menyaksikan langsung kejadian itu disebut berteriak histeris meminta pertolongan. Ia memeluk anaknya yang telah bersimbah darah, sementara istrinya tergeletak pingsan di lokasi kejadian.
Kesaksian mata juga menyebutkan bahwa pengemudi tidak menunjukkan penyesalan di tempat kejadian. Ia justru terlibat adu argumen, terlihat menyalahkan korban, bahkan diduga meledek kewarganegaraan korban yang berasal dari Indonesia. Sikap tersebut memicu kecaman luas di media sosial, tidak hanya dari warganet Indonesia, tetapi juga dari warga Singapura sendiri.