Dari sisi dinamika global, El Nino Southern Oscillation (ENSO) terpantau berada pada fase negatif yang mengindikasikan La Nina lemah, dengan nilai Southern Oscillation Index (SOI) cenderung positif. Kondisi ini berpotensi meningkatkan pasokan uap air yang mendukung pembentukan awan hujan di sebagian besar wilayah Indonesia.
Selain itu, aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO) diprakirakan aktif melintasi NTB, NTT, Laut Flores, Laut Timor, serta Samudra Hindia selatan NTT. Dampaknya, pertumbuhan awan hujan di wilayah tersebut diperkirakan semakin signifikan.
BMKG juga mencatat aktifnya gelombang ekuator, seperti gelombang Kelvin dan Rossby ekuator, yang memperkuat proses konvektif di Samudra Hindia barat Sumatera, pesisir Bengkulu hingga Lampung, serta perairan selatan NTB dan NTT.
Sementara itu, Siklon Tropis Nokaen di Laut Filipina, utara Maluku Utara, diprakirakan menguat dengan kecepatan angin maksimum 35 knot dan tekanan udara sekitar 1000 hPa, bergerak ke arah timur laut. Sistem ini turut memengaruhi pola angin di wilayah utara Indonesia bagian timur.
Adapun bibit siklon 97S diperkirakan bergerak persisten dengan kecepatan angin maksimum 20 knot dan tekanan udara 1000 hPa, sehingga berpotensi meningkatkan pembentukan awan hujan di sekitar sirkulasi siklonik dan sepanjang daerah konvergensi.
BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi banjir, longsor, dan gangguan aktivitas akibat cuaca ekstrem, serta rutin memantau informasi cuaca resmi dari BMKG.(Wartabanjar.com/nur_muhammad)
editor: nur_muhammad










