WARTABANJAR.COM, TANJUNG – Kesenian tradisional kuda lumping masih menjadi salah satu hiburan rakyat yang paling diminati masyarakat.

Pertunjukan yang identik dengan atraksi magis dan iringan musik tradisional ini selalu mampu menyedot perhatian penonton dari berbagai kalangan.

Di Kalimantan Selatan, khususnya Kabupaten Tabalong, kesenian kuda lumping berkembang pesat.

Baca Juga Sundulan Alexsandro Ferreira Samakan Kedudukan Barito Putera 1-1 Lawan Persipura

Meski berasal dari budaya Jawa, kuda lumping kini telah menjamur dan membaur dengan kehidupan masyarakat setempat.

Tercatat, terdapat lebih dari 30 kelompok atau paguyuban kuda lumping yang aktif di Tabalong hingga saat ini.

Kecintaan terhadap kesenian kuda lumping tidak hanya datang dari warga keturunan Jawa. Warga asli Dayak Upau juga turut mengembangkan kesenian ini dengan membentuk kelompok kuda lumping sendiri.

Kelompok tersebut bernama Paguyuban Kuda Lumpur Tunas Baru Desa Kaong Kecamatan Upau dipimpin oleh Srikandi salah satu seorang tokoh Dayak Upau.

Menurut Srikandi, banyak warga Dayak yang menyukai dan menikmati pertunjukan kuda lumping. Karena itu, kesenian ini kemudian diadopsi dan dipadukan dengan kearifan lokal Dayak, sehingga melahirkan ciri khas kuda lumping hasil kolaborasi budaya Jawa dan Dayak.

“Banyak warga Dayak yang senang kuda lumping. Dari situ kami mengembangkan kesenian ini dengan sentuhan budaya lokal, tanpa menghilangkan nilai tradisinya,” ujarnya pada wartabanjar.com, Sabtu (17/1/2026).

Kolaborasi budaya tersebut menjadi bukti bahwa kuda lumping tidak hanya berfungsi sebagai hiburan rakyat, tetapi juga sebagai sarana pemersatu budaya dan perekat sosial antarwarga di Kabupaten Tabalong.

Sementara itu salah satu paguyuban kuda lumping tertua dan masih eksis adalah Kuda Lumping Kridho Mudho yang berasal dari Desa Masingai II, Kecamatan Upau, Kabupaten Tabalong. Paguyuban ini berdiri sejak tahun 1978 dan hingga kini masih rutin tampil dalam berbagai kegiatan masyarakat.