Akibat banjir, aktivitas ekonomi warga lumpuh. Imil mengaku tidak bisa lagi berjualan sayur ke pasar atau mencari kayu untuk menambah penghasilan keluarga.
“Biasanya ke pasar jualan sayur, atau ke gunung cari kayu. Sekarang cuma diam di rumah,” katanya.
Kondisi serupa dialami Ibu Jamil, warga lain di desa tersebut. Selain harus bertahan di rumah yang terendam banjir, ia juga mengeluhkan masalah kesehatan akibat genangan air yang tak kunjung surut.
“Kaki saya kena kutu air. Kalau ada uang beli salep, kalau tidak ya dibiarkan saja,” ungkap Ibu Jamil.
Ia juga menyampaikan, bantuan kesehatan hampir tidak pernah diterima secara langsung.
Distribusi bantuan pun, sebutnya lebih banyak diarahkan ke wilayah lain tanpa menyentuh seluruh rumah warga.
“Tidak ada bantuan obat. Bungkus makanan juga tidak ada. Bantuan sering lewat saja, langsung ke daerah Karamat,” keluhnya. (wartabanjar.com/IKhsan)
Editor Restu

