Lebih lanjut, Faisal menekankan bahwa penguatan teknologi harus berjalan seiring dengan peningkatan kapasitas masyarakat.
Karena itu, BMKG secara konsisten menyelenggarakan berbagai program edukasi, seperti Sekolah Lapang Cuaca bagi nelayan, literasi iklim bagi generasi muda, program BMKG Goes to School, hingga kunjungan edukatif ke kantor-kantor BMKG.
Berbagai materi edukasi dan video mitigasi bencana juga disediakan melalui kanal resmi BMKG untuk memperkuat kesiapsiagaan publik.
“Kita terus meningkatkan pelibatan masyarakat melalui berbagai pembelajaran, pengajaran, dan edukasi yang berkelanjutan,” tuturnya.
Pada kesempatan tersebut, Faisal turut menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan risiko bencana.
Menurutnya, pembangunan yang tangguh terhadap bencana membutuhkan sinergi antara pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan masyarakat.
BACA JUGA: 41 Rumah Rusak di Sungai Buluh HST Dihantam Puting Beliung
Ia mengapresiasi peran Universitas Gadjah Mada yang selama ini aktif mendukung penguatan kapasitas kebencanaan melalui kuliah lapangan, program magang, serta pengembangan riset bersama.
“Ke depan, kami berharap kolaborasi ini tidak hanya berhenti pada kunjungan, tetapi berkembang menjadi riset-riset kolaboratif yang memberikan manfaat,” pungkasnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Teknik UGM, Selo, menyampaikan bahwa webinar Early Warning, Early Action menjadi forum strategis untuk merumuskan pemikiran dan rekomendasi dalam merespons meningkatnya bencana hidrometeorologi.
“Melalui forum ini, kami berharap lahir rekomendasi komprehensif yang dapat menjadi masukan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan dalam memperkuat kesiapsiagaan dan ketahanan bencana di Indonesia,” ujarnya.
Webinar ini juga menghadirkan narasumber lintas sektor, antara lain Direktur Jenderal Sumber Daya Air Kementerian PUPR, akademisi UGM, serta panelis dari komunitas dan lembaga internasional.
Kegiatan tersebut diikuti oleh peserta dari unsur pemerintah, akademisi, mahasiswa, komunitas, dan praktisi, baik secara luring maupun daring. (wartabanjar.com/berbagai sumber)
Editor: Yayu







