“UMKM kita ikut berperan aktif, mulai dari pembuatan keripik tempe, roti, sampai tempe segar dari ibu-ibu sekitar. Semua bahan diupayakan lokal agar manfaatnya kembali ke masyarakat,” ungkap Dian.
Tak hanya soal ekonomi, standar keamanan pangan (food safety) juga menjadi perhatian utama. Sebelum makanan dikirim ke sekolah, dilakukan uji bakteri seperti E.coli, salmonella, hingga histamin. Jarak antar dapur dan sekolah pun diatur maksimal 10–15 menit, agar makanan tetap hangat dan aman dikonsumsi.
“Di Halim, jarak antara dapur dan sekolah hanya sekitar 4–5 menit. Ini penting agar makanan tidak rusak dan tetap aman dikonsumsi,” jelas Dian.
Melalui standar keamanan yang ketat dan keterlibatan UMKM lokal, program MBG Indonesia tidak hanya mencetak generasi sehat, tetapi juga memperkuat ekonomi rakyat. Tak heran jika negara lain mulai melihat Indonesia sebagai model baru program gizi nasional yang cepat dan inklusif. (Wartabanjar.com/AndiAR)
Editor: Andi Akbar
