PERJALANAN KASUS Penculikan Sadis Kacab Bank BUMN hingga Libatkan 2 Prajurit Kopassus

WARTABANJAR.COM, JAKARTA – Fakta baru terungkap dari kasus penculikan berujung kematian Kepala Cabang Pembantu (KCP) bank BUMN, Mohamad Ilham Pradipta (37). Polisi mengungkap detail kronologi yang menyeret 15 tersangka, termasuk dua prajurit elite Kopassus TNI AD.

Awal Rencana Jahat: Perburuan Rekening Dormant

Kasus ini bermula pada Juni 2025. Seorang pelaku bernama Candy alias Ken memiliki data rekening dormant di beberapa bank. Ia berencana menguras dana tersebut ke rekening penampungan. Namun, untuk melancarkan aksinya, Candy membutuhkan persetujuan dari pejabat bank.

Candy kemudian merekrut Dwi Hartono dan membentuk tim. Ia juga mulai berburu kepala cabang atau cabang pembantu bank yang bisa diajak bekerja sama. Namun, upaya pendekatan gagal, hingga akhirnya muncul opsi ekstrem: pemaksaan, bahkan pembunuhan.

Pertemuan Gelap: Dari Preman hingga Aparat

Pada 16–18 Agustus 2025, Candy, Dwi, dan AAM mulai melibatkan jaringan baru. Lewat perantara JP, mereka mendekati Serka N, seorang prajurit Kopassus. Dari sinilah rencana penculikan semakin matang.

Serka N lalu menggandeng rekannya, Kopda FH, untuk menyiapkan tim eksekutor. Mereka merekrut sejumlah orang, termasuk buronan berinisial B, serta beberapa preman bayaran.

Hari Horor: 20 Agustus 2025

Sekitar pukul 15.30 WIB, korban Ilham diculik di parkiran sebuah supermarket di Pasar Rebo, Jakarta Timur. Ia diseret masuk ke mobil Toyota Avanza putih. Setelah disiksa, korban dipindahkan ke Toyota Fortuner hitam di kawasan Kemayoran.

Polisi mengungkap korban mengalami penganiayaan brutal di dua mobil tersebut. Ia dipukul berkali-kali karena terus melawan. Kondisi korban makin lemah, sementara tim penjemput ke safe house tidak kunjung datang.

Baca Juga :   Papua Membeku! Hujan Salju Turun di Grasberg Freeport, Suhu Anjlok hingga Minus 3 Derajat

Baca Lebih Lengkapnya Instal dari Playstore WartaBanjar.com

BERITA LAINNYA

TERBARU HARI INI

paling banyak dibaca