WARTABANJAR.COM, JAKARTA - Gala Ballon d’Or 2025 yang bakal berlangsung di Theatre du Chatelet, Paris, 22 September mendatang menjadi perbincangan hangat. Bukan karena pesta penghargaan ini meriah, melainkan lantaran Presiden PSG, Nasser Al Khelaifi, secara terbuka meminta para pemilih berlaku adil untuk Ousmane Dembele. Ajang prestisius tersebut mempertemukan jurnalis ternama, presiden klub, dan kapten tim nasional dari seluruh dunia untuk menentukan pemenang. Dari daftar nominasi, nama Dembele bersinar setelah sukses membawa PSG menyapu gelar domestik dan meraih trofi Liga Champions musim lalu. Namun, persaingan ketat hadir dari Lamine Yamal serta Mohamed Salah yang juga difavoritkan. Sepanjang musim 2024/25, Dembele mencatatkan statistik impresif dengan 35 gol dan 16 assist dari 53 pertandingan di semua kompetisi. Meski begitu, mekanisme voting kerap menuai sorotan karena dianggap rawan subjektivitas dan lobi politik dalam sepak bola Eropa. Eks pemain PSG yang kini menjadi analis, Jérôme Rothen, menilai dukungan Al Khelaifi adalah bentuk tekanan halus kepada voters. “Dembele memang luar biasa, tetapi Ballon d’Or seharusnya diputuskan dengan obyektivitas. Jika ada intervensi semacam ini, penghargaan bisa kehilangan kredibilitasnya,” ungkap Rothen dalam wawancara dengan RMC Sport, Kamis (28/8). Menanggapi tudingan itu, Al Khelaifi menegaskan dirinya sekadar menyuarakan harapan. “Saya percaya Dembele adalah salah satu pemain terbaik dunia saat ini. Saya hanya berharap mereka yang memilih bisa bersikap fair,” katanya singkat. Masyarakat sepak bola kini menunggu, apakah voters benar-benar akan memilih berdasarkan prestasi lapangan atau tetap dipengaruhi kepentingan klub besar di balik layar. (Wartabanjar.com/berbagai sumber) Editor: Andi Akbar