Mengungkap Makna "Hijrah" di Balik Nama Masjid Al-Hijriyah di Pelaihari
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, PELAIHARI- Di tengah hiruk pikuk Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, sebuah masjid berdiri kokoh, menjadi saksi bisu perjuangan dan semangat gotong royong masyarakat.
Masjid Al-Hijriyah di Angsau, Pelaihari, lebih dari sekadar tempat ibadah.
Namanya menyimpan kisah unik tentang sebuah "hijrah" yang tak hanya bermakna perpindahan fisik, tetapi juga spirit kebersamaan dan pengorbanan yang menjadi pondasi pembangunannya.
Menurut penuturan Ketua Pengurus Masjid Al-Hijriyah, H.A. Saryanie, saat diwawancara jurnalis Wartabanjar.com, Jumat (22/8/2025), mengatakan masjid ini didirikan pada 1976.
Awalnya, lokasi masjid tersebut tidak di alamat sekarang, melainkan di sebelah Kompi, Pelaihari.
"Kemudian diberi orang tanah, jadi pindah ke sini lokasi barunya," ujar H.A. Saryanie, menjelaskan awal mula perpindahan yang menjadi cikal bakal nama masjid tersebut.
Masjid ini murni dibangun dari swadaya masyarakat dengan bantuan pemerintah.
H.A. Saryanie mengenang kembali bagaimana para tokoh masyarakat seperti Abdul Khair, Sudarsono, Haji Subur, dan Bapak Hadi, bergotong royong mendirikan bangunan awal yang terbuat dari kayu.
"Ini dibangun oleh masyarakat," tegasnya.
Perjalanan pembangunan masjid ini tidaklah singkat.
Bangunan yang awalnya sederhana mulai direnovasi menjadi struktur permanen pada tahun 2004, dengan peletakan pondasi pada tahun 2007.
Secara bertahap, masjid ini diperluas dan dilengkapi dengan berbagai fasilitas modern, termasuk pintu gerbang yang dibangun antara tahun 2013 hingga 2018.
Menurut H.A. Saryanie, masjid ini satu-satunya di perkotaan yang ada gazebo dan pintu gerbang.
Fasilitas seperti gazebo dan lahan parkir yang luas menjadikannya pilihan utama bagi para pengendara yang melintas, terutama yang datang dari arah Kotabaru, Tanah Bumbu, atau bahkan Samarinda.
"Karena masjid ini menjadi tempat persinggahan dengan alasan mereka kemari adalah lapangan luas, enak, mantap untuk parkir," ungkap Saryanie.
Selain menjadi rest area, Masjid Al-Hijriyah juga dilengkapi dengan perpustakaan yang menyediakan buku umum, buku agama, dan Al-Qur'an.
Rencananya, lahan di belakang masjid akan dimanfaatkan untuk pembangunan TK Al-Qur'an dan koperasi.
BACA JUGA: TRAGEDI BERDARAH di Ponpes Al-Hikmah HST! Santri Ungkap Tak Pernah Ada Sosialisasi Anti-Bullying
Sejarah Nama Masjid Al-Hijriyah
Nama Al-Hijriyah memiliki cerita yang menarik.
Ia lahir dari kesalahan penyebutan yang akhirnya menjadi ciri khas.
H.A. Saryanie menjelaskan, harusnya namanya hijrah, tetapi karena pindahnya ke lokasi baru ini bulan alhijriah sehingga namanya menjadi Al-Hijriah saja.
Nama ini, meskipun secara tata bahasa kurang tepat, justru mengandung makna yang mendalam, yakni menjadi pengingat perjuangan masyarakat untuk memindahkan dan membangun kembali tempat ibadah ini dari nol.
Nama tersebut kini melekat erat di hati masyarakat dan jemaah, bahkan banyak orang dari luar daerah lebih mengenal masjid ini dengan nama tersebut, menjadikannya ikon yang tak tergantikan.
Berkapasitas 800 Orang
Dengan kapasitas mencapai 800 orang, masjid ini juga dilengkapi berbagai fasilitas modern seperti CCTV dan Wi-Fi gratis.
Pengurus masjid aktif mengadakan berbagai kegiatan keagamaan, termasuk festival Habsyi tingkat kabupaten, Nuzulul Quran, Gema Ramadan, dan menjadi titik kumpul para jemaah Haul Guru Sekumpul.
H.A. Saryanie berharap masjid ini terus menjadi pusat syiar Islam dan menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi siapa pun yang datang.
"Kami berharap semoga masjid ini syiar agama Islamnya tuh dimantapkan, karena ini juga kita berharap orang-orang yang jadi imam, jadi khatib itu orang-orang yang memang orang-orang pilihan," tutupnya. (Wartabanjar.com/Gazali)
Editor: Yayu