Jalan Kartika Ditutup Mendadak! Investigasi Ungkap Janji Palsu di Balik Proyek Jembatan Sei Ulin
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU – Penutupan mendadak Jalan Kartika pada Jumat malam (8/8/2025) pukul 20.00 WITA memicu gelombang kekecewaan warga. Jalan ini selama berbulan-bulan menjadi jalur alternatif vital akibat perbaikan Jembatan Sei Ulin di Jalan A. Yani Km 31, Banjarbaru. Namun, tanpa peringatan, akses tersebut tiba-tiba dipagari portal oleh warga.
Bagi Fadlan, salah satu pengendara, malam itu berubah jadi petaka. “Saya mutar-mutar gak karuan. Biasanya lewat sini, gak nyangka ditutup,” keluhnya saat ditemui Sabtu siang (9/8/2025).
Janji yang Tak Pernah Ditepati
Investigasi WartaBanjarmedia menemukan, penutupan ini bukan sekadar aksi spontan. Ada riwayat panjang kekecewaan di baliknya. Warga, yang diwakili Mardian, mengungkapkan bahwa sejak awal sudah ada kesepakatan dengan pihak kontraktor dan Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN).
BACA JUGA:Bupati Barito Kuala Sabet Visioner Leader Award 2025, Bukti Kepemimpinan Inovatif yang Bawa Daerah Melaju Pesat!
Kesepakatan itu jelas: Jalan Kartika akan diatur menjadi satu arah dan dijaga petugas selama proyek berlangsung. Tetapi, fakta di lapangan berkata lain — tak ada pengaturan, tak ada penjagaan, hanya arus lalu lintas kacau dan warga yang merasa diabaikan.
“Kami sudah dimusyawarahkan dan dijanjikan solusi. Tapi nyatanya, sampai kemarin malam, nihil perubahan,” ujar Mardian tegas.
Aksi Portal: Puncak Kesabaran Warga
Merasa janji hanya manis di bibir, warga mengambil langkah sendiri. Portal besi dipasang malam itu juga — bukan sekadar penghalang, melainkan pesan keras kepada pihak berwenang: Aksi nyata, atau kami hentikan akses ini.
“Ini bukan sabotase. Ini protes. Kami ingin ada tindakan, bukan omongan,” kata Mardian, yang menyebut pelaksana proyek belum sepenuhnya menjalankan kewajiban pengelolaan dampak lingkungan (AMDAL).
Tak lama setelah portal berdiri, Dinas Perhubungan (Dishub) dan Polres Banjarbaru bergerak ke lokasi. Langkah ini diharapkan menjadi awal komunikasi yang lebih serius antara warga dan kontraktor.
“Harapan kami, ada penataan lalu lintas yang jelas selama proyek berjalan. Kami tidak ingin jadi korban proyek yang mengabaikan warga,” pungkas Mardian. (Wartabanjar.com/IKhsan)
editor: nur muhammad