WARTABANJAR.COM – Sebuah mobil patroli polisi seharusnya jadi simbol rasa aman. Tapi di Desa Hu’u, Dompu, NTB, mobil itu justru jadi sumber teror.
Minggu pagi, (6/7/2025) sebuah mobil patroli Polsek Hu’u melaju kencang dari arah Pantai Lakey. Mobil itu kehilangan kendali, menabrak beberapa pengendara motor, lima orang dewasa, tiga anak-anak, dan bahkan menabrak sebuah rumah warga sebelum terbalik di parit.
Korban luka-luka dilarikan ke RSUD Dompu dan Puskesmas Rasabou Hu’u. Satu anak mengalami patah kaki, sementara korban lainnya menderita luka ringan hingga berat.
Yang lebih memprihatinkan, pengemudi mobil diduga anggota polisi yang sedang dalam pengaruh alkohol. Setelah kecelakaan, ia meninggalkan kendaraan dinas dan melarikan diri begitu saja.
Belakangan diketahui, pelaku adalah Briptu Imansyah. Ia kini diamankan di sel Propam Polres Dompu, dan Kapolres menyatakan bahwa proses hukum akan berjalan, termasuk pembicaraan dengan keluarga korban soal ganti rugi.
Tapi publik tak butuh basa-basi. Karena pertanyaannya bukan lagi apa yang akan dilakukan polisi, melainkan apakah mereka berani benar-benar menindak.
Karena terlalu sering, kasus seperti ini berakhir dengan satu kata klise: “oknum”. Lalu semua perlahan dilupakan.
Padahal ini bukan sekadar kecelakaan. Ini tentang hancurnya kepercayaan. Tentang kendaraan dinas yang berubah jadi ancaman. Tentang aparat yang semestinya melindungi, tapi justru mencederai warga sipil termasuk anak-anak.
Jika penegak hukum bisa melanggar hukum dan hanya diberi perlindungan institusi, maka untuk apa hukum itu ditegakkan?
Saatnya berhenti bersembunyi di balik seragam. Karena keadilan bukan tentang siapa yang berpangkat, tapi siapa yang bertanggung jawab.

