Khawatir Limbah Medis, Warga Kampung Keramat Soroti Transparansi Proyek Labkesda Banjarbaru
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Sejumlah warga Kampung Keramat RT 6 RW 002, Kelurahan Kemuning, menyuarakan keresahan mereka terkait proyek pembangunan Laboratorium Kesehatan Daerah (Labkesda) yang berlokasi tepat di samping Puskesmas Banjarbaru Selatan.
Pembangunan yang digagas oleh Dinas Kesehatan Banjarbaru itu dinilai menimbulkan tanda tanya besar di kalangan warga, terutama karena tidak adanya proses sosialisasi yang melibatkan masyarakat sekitar sebelum proyek dimulai.
"Kami tidak diberi tahu sama sekali. Kalau soal puskesmas tidak masalah, tapi Labkesda ini berbeda karena berkaitan dengan limbah medis," ujar R, salah satu perwakilan warga, kepada wartabanjar, Selasa (17/6/2025) siang.
Baca Juga
Geger di Tanah Bumbu! Video Asusila Sesama Jenis Tersebar, Pelaku Ditangkap Polisi
Keluhan warga bukan tanpa alasan. Mereka mengaku khawatir dengan potensi dampak lingkungan dari limbah laboratorium. Apalagi, menurut penuturan warga berinisial A, pihak pelaksana proyek telah membangun sumur pembuangan limbah dengan ukuran cukup besar.
"Dari informasi yang kami dapat, sumur itu panjangnya 20 meter dan lebarnya 50 meter, dengan kedalaman sekitar tiga meter. Ini disebut sebagai kolam terakhir sebelum limbah dibuang dari labotarium," jelas A.
Ironisnya, sejumlah warga yang rumahnya dekat lokasi proyek justru tidak diikutsertakan dalam pertemuan dengan pihak terkait.
Merasa diabaikan dan dibayangi ketakutan akan bahaya limbah medis, warga pun mengambil inisiatif. Pada Sabtu (14/6/2026), mereka mendatangi langsung lokasi pembangunan untuk meminta kejelasan.
Di sana, mereka sempat bertemu dengan perwakilan konsultan, kontraktor, dan Dinas PUPR.
Belum puas dengan jawaban yang diberikan, warga akhirnya mengadu ke Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Kalimantan Selatan, Senin (16/6/2025), untuk mencari penjelasan hukum dan teknis terkait tata kelola limbah medis.
"Kami tidak mengerti mekanisme pengelolaan limbah. Itulah kenapa kami datang ke Walhi. Kami ingin tahu apakah pembangunan ini sesuai aturan. Jangan sampai dampaknya baru terasa nanti oleh anak cucu kami 10 atau 20 tahun lagi," pungkas A. (IKhsan)
Editor Restu