WARTABANJAR.COM, BARABAI – Kasus stunting di wilayah kerja Puskesmas Hantakan, Kabupaten Hulu Sungai Tengah (HST), Desa Pasting mencatat prevalensi tertinggi dengan 27,12%, diikuti Desa Patikalain dengan 25% pada Mei 2025. Dari total 642 balita yang ditimbang, terdapat 104 anak mengalami stunting. Hal ini menjadikan prevalensi rata-rata stunting di wilayah Puskesmas Hantakan mencapai 16,20%. Menurut Kepala Puskesmas Hantakan, Adidinar, angka prevalensi ini merupakan perbandingan antara jumlah anak stunting terhadap jumlah balita yang ditimbang. Baca Juga Bank Kalsel Gelar Undian Berhadiah Rp 1 Miliar untuk ASN Banua Artinya, semakin banyak anak yang ditimbang dan ditangani lebih awal, maka peluang penurunan angka stunting akan semakin besar. Ia menegaskan bahwa pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara instan. Upaya harus dimulai sejak masa remaja, khususnya perempuan, dengan pemberian tablet tambah darah secara rutin. “Remaja putri dianjurkan minum tablet tambah darah seminggu sekali. Kalau sudah anemia, maka konsumsi harus setiap hari,” ungkapnya, Minggu (15/6/2025), saat diwawancarai usai menghadiri kegiatan Bakti Pemuda Murakata di Desa Ptikalain, Kecamatan Hantakan. Langkah antisipasi lain dilakukan melalui pemeriksaan kesehatan bagi calon pengantin. Jika calon pengantin terindikasi Kurang Energi Kronis (KEK) atau belum siap secara fisik dan psikis, maka disarankan untuk menunda kehamilan meskipun sudah menikah. Perhatian besar juga diberikan kepada ibu hamil. Pemeriksaan rutin dilakukan di Posyandu, minimal 6 kali selama masa kehamilan, termasuk pemeriksaan USG dan pemantauan 10T indikator pelayanan berkualitas mengacu pada 10 indikator pemeriksaan dalam pelayanan antenatal (ANC) Selain itu, ibu hamil juga menerima Pemberian Makanan Tambahan (PMT) baik berupa biskuit maupun bahan pangan lokal, selama 120 hari. Pemberian ini bertujuan meningkatkan status gizi ibu dan calon bayi. Meskipun berbagai layanan telah disediakan, tantangan terbesar masih ada pada kepatuhan masyarakat dalam mengonsumsi suplemen serta pemenuhan asupan gizi yang cukup, terutama protein. “Kadang tablet tambah darah sudah diberikan, tapi tidak diminum. Padahal protein sangat penting untuk tumbuh kembang dan daya tahan tubuh,” jelas Kepala Puskesmas Hantakan. Setelah melahirkan, bayi dan balita terus dipantau di Posyandu. Sayangnya, masih banyak masyarakat yang hanya fokus pada berat badan, padahal indikator stunting adalah tinggi badan berdasarkan umur. “Menaikkan tinggi badan tidak mudah. Sekali anak masuk kategori stunting, apalagi sangat pendek, sulit untuk keluar dari kondisi itu,” katanya. Untuk mengurangi dampak jangka panjang, anak-anak stunting mendapatkan Stimulasi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) dan diberikan alat permainan edukatif (APE) guna melatih kognitif. Namun, Kepala Puskesmas Hantakan menegaskan bahwa keberhasilan penurunan stunting sangat tergantung pada peran keluarga. PMT hanya bersifat tambahan. Jika di rumah masih terdapat perokok aktif, pola makan buruk, atau pola asuh tidak tepat, maka risiko stunting tetap tinggi. Penanganan stunting juga melibatkan sektor pertanian dan PKK. Produksi pangan lokal harus dimanfaatkan, lalu diolah menjadi makanan sehat dengan kandungan gizi seimbang. “Kalau anak sulit makan, minimal protein dan vitaminnya harus tercukupi. Protein tidak hanya untuk tumbuh, tapi juga untuk menjaga daya tahan tubuh,” jelasnya. (Adew) Editor Restu