VIRAL! Jembatan di Sampit Diselimuti Kain Kuning, Warga Percaya Dijaga Tiga Ular Gaib Raksasa
Ukuran Huruf:
WARTABANJAR.COM, SAMPIT – Sebuah jembatan di Jalan Jenderal Sudirman KM 22, Kota Sampit, Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, mendadak viral setelah terlihat dipenuhi kain kuning yang melilit sepanjang sisi jembatan Sungai Lenggana.
Fenomena tak biasa ini menarik perhatian warganet setelah video penampakan kain kuning tersebut tersebar luas di media sosial. Kain-kain itu tampak terikat rapi dan menyelimuti sisi jembatan, menciptakan suasana yang sarat aura mistis.
Bukan sekadar hiasan, pemasangan kain kuning itu diyakini berkaitan dengan kepercayaan warga sekitar akan kekuatan gaib yang mendiami jembatan tersebut. Dalam budaya lokal Kalimantan, kain kuning kerap diasosiasikan dengan tempat keramat atau angker.
Bahkan, sejumlah warganet menyebut jembatan ini dipercaya sebagai lokasi pembuangan kepala manusia saat tragedi Sampit silam—menambah kesan menyeramkan pada tempat tersebut.
BACA JUGA:MUI Tanah Laut Resmi Dikukuhkan: Satukan Ulama dan Umara Tangkal Radikalisme
Lebih mengejutkan lagi, warga sekitar mengklaim pernah melihat penampakan tiga ekor ular berukuran besar di sekitar jembatan. Sosok ular misterius ini dipercaya sebagai penjaga gaib atau makhluk halus yang menghuni wilayah tersebut. Cerita mistis ini pun semakin memperkuat keyakinan masyarakat bahwa jembatan tersebut bukanlah tempat sembarangan.
Viral dan Banjir Komentar Warganet
Meski belum ada penjelasan resmi dari pemerintah atau tokoh adat setempat, kain kuning tetap terpasang hingga kini. Bagi sebagian masyarakat, hal ini merupakan bentuk penghormatan terhadap energi gaib yang dipercaya menjaga kawasan tersebut.
Fenomena ini memicu berbagai komentar dari warganet. Ada yang menyikapinya secara serius, ada pula yang menyelipkan canda dan sindiran sosial:
"Itulah pentingnya belajar akidah dengan benar," tulis seorang pengguna.
"Himung banar juragan kain… alhamdulillah rejeki jar sidin," celetuk lainnya dengan emotikon tertawa.
"Positifnya sih, kalau ada kain kuning orang jadi hati-hati dan nggak ngebut, bisa mengurangi kecelakaan," ujar akun lain mencoba melihat dari sisi positif.
"Sementara itu, orang-orang dari luar sedang mengeruk bumi kalian, membabat dan menggarap hutan dan tanah kalian," tulis netizen lain dengan nada satire.
"Kuning itu artinya hati-hati... atau bendera Golkar?" tulis akun lain menyelipkan humor politik.
Terlepas dari pro dan kontra, fenomena kain kuning di Jembatan Sungai Lenggana ini menjadi potret nyata bagaimana kepercayaan lokal masih mengakar kuat di tengah masyarakat Kalimantan. Di sisi lain, peristiwa ini juga menjadi pengingat akan pentingnya dialog antara budaya, spiritualitas, dan pembangunan infrastruktur yang menghormati nilai-nilai lokal.(Wartabanjar.com/urbanjar.id/berbagai sumber)
editor: nur muhammad