Warisan Geologi Tertua dan Terlengkap
Geopark Meratus menyimpan formasi ofiolit yang terbentuk sekitar 198 juta tahun lalu, menjadikannya salah satu formasi ofiolit terlengkap dan tertua di Indonesia .
Lanskap Alam yang Memukau
Kawasan ini membentang seluas 3.645 km², dengan puncak tertinggi mencapai 1.900 mdpl. Dikenal dengan hutan hujan tropisnya yang lebat, air terjun eksotis, dan sungai-sungai jernih, Geopark Meratus menawarkan keindahan alam yang memukau .
Keanekaragaman Hayati dan Budaya
Rumah bagi flora dan fauna endemik seperti anggrek langka, orangutan Kalimantan, dan bekantan, kawasan ini juga kaya akan budaya lokal. Suku Banjar dan Dayak yang mendiami wilayah ini masih mempertahankan tradisi dan kearifan lokal mereka, seperti Rumah Adat Bumbungan Tinggi dan Pasar Terapung Lok Baintan .
Situs Geosite yang Menarik
Terdapat 54 situs geosite yang tersebar di empat rute perjalanan utama: Utara, Timur, Selatan, dan Barat. Setiap rute menawarkan pengalaman unik, seperti arung jeram menggunakan rakit bambu di Loksado dan kunjungan ke Batu Kulit Ular (Serpennit) .
Potensi Wisata Berkelanjutan
Dengan status UGGp, Geopark Meratus membuka peluang besar untuk pengembangan pariwisata berbasis alam dan budaya yang berkelanjutan. Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan mendorong setiap kabupaten/kota di wilayah ini untuk mengembangkan potensi wisata lokal, seperti satwa endemik dan atraksi budaya, sambil menjaga kelestarian lingkungan .
Tantangan dan Harapan ke Depan
Meskipun telah diakui secara internasional, Geopark Meratus menghadapi tantangan dalam pengelolaan berkelanjutan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Pemerintah dan masyarakat diharapkan terus bekerja sama untuk menjaga keseimbangan antara pelestarian alam, pengembangan ekonomi, dan pelestarian budaya.
Dengan pengakuan ini, Geopark Meratus tidak hanya menjadi kebanggaan Kalimantan Selatan, tetapi juga Indonesia di mata dunia.
Untuk informasi lebih lanjut dan eksplorasi virtual, Anda dapat mengunjungi situs resmi Geopark Meratus.(Wartabanjar.com/Meratus Geopark/UNESCO/berbagai sumber)
editor: nur muhammad







