Namun siapa sangka, fungsi teknis itu kini berpadu manis dengan nilai sosial dan estetika. Tak hanya petani yang diuntungkan, tapi juga masyarakat umum yang merindukan ruang terbuka alami untuk bersantai.
Sore hari, kawasan luar bendung mulai hidup. Pedagang kaki lima berdatangan menjajakan jajanan khas. Anak-anak bermain, remaja berswafoto, dan orang tua sekadar duduk menikmati senja.
“Tempat ini kayak bonus dari pembangunan. Tadinya cuma buat irigasi, tapi ternyata bisa juga jadi tempat healing warga,” kata Rendra, salah satu pengunjung.
Bendung Pitap: Potret Harmoni Antara Pembangunan dan Kehidupan
Kini, Bendung Pitap bukan sekadar bendungan. Ia adalah simbol keberhasilan pembangunan infrastruktur yang menyentuh kehidupan sosial. Di satu sisi, ia menyuburkan sawah dan menjaga ketahanan pangan. Di sisi lain, ia menjadi oase ketenangan bagi masyarakat yang ingin sejenak menjauh dari hiruk-pikuk kota.
Balangan mungkin belum punya taman kota modern atau wisata megah. Tapi senja di Bendung Pitap membuktikan, bahwa dengan alam dan infrastruktur yang dirawat, warga bisa tetap punya tempat istimewa untuk pulang dan tenang.(Wartabanjar.com/Alfi)
editor: nur muhammad







