WARTABANJAR.COM, MARTAPURA – Lebih dari sepekan banjir masih melanda sejumlah wilayah di Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar. Meski debit air mulai menunjukkan penurunan, genangan air tetap merendam badan jalan hingga rumah-rumah warga. Pantauan wartabanjar.com di Desa Gambut, sejumlah warga terpaksa bertahan di tempat pengungsian karena rumah mereka masih terendam. Salah satu lokasi pengungsian yang menjadi pilihan adalah Pasar Baru Gambut. Hingga Selasa (28/1/2025) siang, sejumlah warga masih terlihat bertahan di lokasi tersebut, sementara sebagian lainnya telah kembali ke rumah masing-masing. 8 Hari Mengungsi Dewi, salah satu pengungsi, mengungkapkan bahwa dirinya sudah mengungsi selama lebih dari delapan hari akibat rumahnya masih terendam air. “Saya sudah 8 hari lebih mengungsi di sini, karena kondisi air di rumah masih cukup dalam,” ujar Dewi kepada wartabanjar.com. Dewi menambahkan, ini adalah kali kedua dirinya harus mengungsi setelah banjir besar yang pernah melanda Kalimantan Selatan pada 2021. “Kalau tahun-tahun sebelumnya banjir tidak pernah masuk ke rumah, dan biasanya cepat surut. Kecuali tahun 2021, itu memang parah, kami harus mengungsi. Setelah itu aman-aman saja, tapi sekarang harus mengungsi lagi,” ungkapnya. Meski begitu, Dewi bersyukur kondisi kesehatan warga pengungsian tetap terjaga. “Kalau sakit yang serius sih tidak ada, paling cuma gatal-gatal karena kelamaan di air. Tapi tiap dua hari sekali ada pemeriksaan kesehatan dan obat-obatan dari tim medis,” jelasnya. Dewi berharap banjir kali ini tidak berlangsung lama seperti yang terjadi pada 2021. “Kalau banjirnya lama, kita jadi susah beraktivitas dan bekerja. Mudah-mudahan cepat surut supaya kami bisa segera kembali ke rumah,” harapnya. Fenomena banjir yang terus berulang ini mengingatkan pentingnya perbaikan tata kelola air dan mitigasi bencana di wilayah Kabupaten Banjar, khususnya Kecamatan Gambut. Warga pun berharap ada langkah konkret dari pemerintah untuk mencegah banjir serupa terulang di masa mendatang.(Wartabanjar.com/Iqnatius Aprianus) editor: nur muhammad