WARTABANJAR.COM, JAKARTA -Indonesia telah mencanangkan Indonesia emas bertepatan ulang tahun ke-100 RI pada 2045.
Perubahan iklim jadi topik yang juga menghiasi pemberitaan media dan perbincangan di berbagai platform media sosial tahun ini.
Apalagi, tahun ini cuaca ekstrem dan fenomena iklim melanda negara-negara di berbagai belahan bumi. Mulai dari hujan disertai banjir bsandang, kekeringan dan suhu panas ekstrem, angin puting beliung, polusi udara yang semakin memburuk, hingga semakin cepatnya siklus iklim dan cuaca.
Berulang kali lembaga-lembaga di dunia yang memiliki wewenang, termasuk Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan agar semua pihak bekerja sama mengatasi dampak-dampak perubahan iklim yang terjadi.
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengungkapkan skenario terburuk yang tengah mengancam dunia, termasuk Indonesia. Yaitu, krisis pangan, yang kemudian bisa memicu terjadinya krisis ekonomi dan politik.
Skenario terburuk itu, ujarnya, adalah efek domino perubahan iklim.
“Perubahan iklim yang terjadi di dunia, imbuhnya, memiliki dampak serius bagi perekonomian seluruh negara, termasuk Indonesia. Jika terus dibiarkan, sebagaimana diprediksi oleh organisasi pangan dan pertanian dunia, Food and Agriculture Organization (FAO), ancaman bencana kelaparan yang mengintai dunia bisa terjadi pada tahun 2050,” katanya dalam keterangan di situs resmi November lalu seperti dilansir CNBC Sabtu (30/12/2023).
Seramnya, lanjut Dwikorita, bencana itu tak akan peduli negara maju atau negara berkembang. Karena itu, Dwikorita mengimbau seluruh negara termasuk Indonesia mengubah gaya hidup yang mengandalkan energi fosil menjadi energi ramah lingkungan.
“Jika budaya ini tidak diubah, maka prediksi pertengahan abad ini dunia akan mengalami masalah ketahanan pangan akan benar-benar terjadi. Untuk ASEAN–juga Indonesia, dapat dikategorikan sebagai wilayah rentan terhadap ketahanan pangan dan masuk ke dalam level di luar moderat,” tukasnya.
“Indikasi terburuknya, jika terjadi krisis pangan maka dapat dipastikan akan terjadi krisis ekonomi dan politik di dalam negeri. Inilah fakta yang harus dipahami oleh seluruh masyarakat Indonesia,” ujar Dwikorita.
BMKG sebenarnya telah berulang kali mengingatkan ancaman akibat perubahan iklim yang mengintai bumi.
Dwikorita memaparkan salah satu dampak perubahan iklim adalah gangguan ketahanan pangan yang dipicu kekeringan ekstrem dan kekurangan air atau water hotspot yang terjadi secara global. Dan diprediksi dapat berlangsung ke beberapa waktu ke depan.
Dia menjelaskan, indikator tekanan ketahanan pangan berdasarkan water hotspot menunjukkan pada pertengahan abad nanti, sekitar tahun 2050-an, sebagian besar wilayah di bumi akan berwarna orange sampai orange pekat, bahkan hitam.
“Akibat kekurangan air ini, diproyeksikan oleh organisasi meteorologi dunia, termasuk di Indonesia warnanya orange, terjadi kondisi kerentanan cukup tinggi terhadap ketahanan pangan,” kata Dwikorita saat rapat kerja dengan Komisi V DPR, Rabu (8/10/2023).
“Diprediksi pada tahun 2050-an akan terjadi kekurangan pangan akibat kekurangan air tersebut, di wilayah-wilayah orange, cokelat, merah, dan sampai gelap. Indonesia masuk kategori wilayah menengah (orange),” katanya.
Dia pun mengutip data badan meteorologi dunia, World Meteorological Organization (WMO) yang mencatat tahun 2023 menjadi tahun penuh rekor
temperatur.







