WARTABANJAR.COM – Siasat licik guru les musik bernama Rochmat Bagus Apriatma (41) membunuh mahasiswi Universitas Surabaya (Ubaya), Angeline Nathania terungkap.
Menurut polisi, selain dibunuh, tubuh Angeline juga dimasukkan ke dalam koper kemudian dibuang.
Angeline Nathania, dibunuh dan jasadnya ditemukan dalam koper. Korban ternyata dibunuh oleh guru les musiknya sendiri. Kini, pelaku sudah ditangkap polisi.
Motif pembunuhan tersebut juga sudah diungkapkan polisi. Simak informasi selengkapnya berikut ini.
BACA JUGA: 7 Tersangka Lakukan 33 Adegan Pembunuhan Sadis Lansia di Mangkauk Pengaron
Sebelum menghabisi nyawa Angeline Nathania, Rochmat Bagus Apriatma sudah merencanakan mengusai mobil Xpander milik keluarga yang biasa dipakai mahasiswi Ubaya tersebut.
Bambang Sumarjo, ayah dari Angeline mengungkapkan dua minggu sebelum Angeline menghilang, Rochmat sudah memegang Surat Tanda Nomor Kendaraan (STNK) mobil Xpander milik keluarga.
Bambang menduga bahwa surat kendaraan tersebut direbut oleh pelaku agar Angeline setuju untuk memberikan mobil tersebut kepada Rochmat sebagai jaminan pinjaman.
“Semuanya terlihat seperti sudah direncanakan. Pakaian yang dikenakan oleh anak saya terlihat baru. Sepertinya dibeli oleh pelaku. Hal ini menunjukkan bahwa pelaku telah melakukan segala upaya untuk mendapatkan mobil tersebut,” ujar Bambang, Jumat (9/6/2023) malam.
Dengan dasar itu, Bambang menuntut agar Rochmat dijerat pasal tentang pembunuhan berencana karena tragedi yang menimpa putrinya telah direncanakan pelaku jauh sebelumnya.
Terkait pengakuan Rochmat yang brersikeras bahwa dia membunuh Angeline karena sakit hati, dan hingga saat ini, bukti yang mendukung tuduhan pembunuhan berencana masih minim, Bambang pun bereaksi.
“Saya mendengar pernyataan dari pelaku bahwa dia hanya spontanitas dalam membunuh anak saya. Saya merasa hal itu sangat tidak masuk akal, mengingat sebelumnya dia telah mengincar kendaraan kami. Hal ini dapat dibuktikan dengan hilangnya STNK dua minggu sebelum kejadian ini,” ungkapnya.
“Mungkin dia menghadapi masalah keuangan dan terdesak sehingga merencanakan tindakan ini,” imbuhnya.
Terakhir, Bambang sekali lagi menegaskan bahwa harapannya agar pelaku dapat dijatuhi hukuman seumur hidup atau bahkan hukuman mati.
“Ini harus menjadi pelajaran bagi semua orang. Bergaul dengan orang seperti ini sangat berbahaya, terutama bagi para generasi muda, terutama perempuan. Mereka harus dijaga dan berhati-hati saat berkenalan dengan individu seperti ini, yang bisa diibaratkan sebagai predator,” tandasnya.
Sementara itu, Kasat Reskrim Polrestabes Surabaya berjanji mendalami kasus ini.
Langkah-langkahnya polisi bakal mendekati orang-orang terdekat pelaku maupun korban. Supaya dapat menemukan bukti baru sebelum berkas perkara ini diserahkan ke kejaksaan.
Detik-detik Pembunuhan
Sebelumnya, polisi mengungkap detik-detik pembunuhan Angeline Nathania.
Di depan polisi, Rochmat mengaku membunuh Angeline karena ingin menggadaikan mobil korban.
Ceritaka, di awal Mei 2023, Mahasiswi Fakultas Hukum Ubaya ini pergi meninggalkan rumah sekira pukul 6.30 dengan naik mobil Xpander milik kakaknya.
Mahasiswi semester VI ini pamit ke mamanya hendak mengikuti ujian di kampus.
Di tengah perjalanan mampir ke sebuah cafe milik Rochmat di kawasan Rungkut.
Mereka kemudian pergi sarapan di sebuah rumah makan.
Sesudahnya, Rochmat mengantar Angeline ke kampus. Keduanya kemudian berpisah.
Saat itu mobil digunakan Rochmat.
Selesai ujian, korban dijemput pelaku.
Di mobil pelaku mengatakan ingin meminjam uang korban senilai puluhan juta. Dana tersebut rencana akan digunakan untuk membayar utang.
Korban yang masih kuliah, tentu saja tidak mempunyai uang sebanyak itu.
Pelaku terbesit pikiran menggadaikan mobil milik kakak Angeline. Namun, Angeline menolak karena bukan pertama itu pelaku meminjam uang kepada korban.
Rochmat kemudian mengajak Angeline keliling Kota Surabaya hingga larut malam.
Kemudian, keduanya memutuskan istirahat di sebuah apartemen kawasan Surabaya Timur.
Angeline di tempat tersebut kembali dibujuk soal urusan gadai mobil.
Perlu diketahui, Angeline sudi bermalam bersama Rochmat di sebuah apartemen karena terjebak dalam hubungan asmara. Namun, kisah cinta mereka disembunyikan.
Satu alasannya, status Rochmat sudah berumah tangga. Mereka saling mengenal sejak tahun 2013, saat itu Rochmat menjadi guru les gitar Angeline.
Hari berikutnya Rochmat dan Angeline keluar meninggalkan apartemen. Rochmat mengajak Angeline bertemu orang yang disebut-sebut menerima gadai mobil. Angeline marah memberontak ingin pulang.
“Pukul 14.30 yang mereka berhenti di sekitar jalan kawasan Kebun Bibit, Mulyorejo. Mereka bertengkar. Kejadian ini diketahui warga sekitar,” ungkap Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol Pasma Royce.
Angeline saat itu gregetan dengan Rochmat.
Angeline mencela kelakuan Rochmat. Hal ini membuat Rochmat emosi.
Tangan Angeline diikat ke belakang lalu lehernya dicekik.
Tak sampai di situ, leher Angeline dijerat dengan sabuk pinggang hingga tewas.
Praktis, Angeline meninggal di dalam mobil.
“Lalu tersangka pergi ke rumah mertua mengambil koper dan sempat membeli tali rapping. Korban dibungkus dengan plastik wrapping,” terang Pasma.
Sekira pukul 20.30 Rochmat memutuskan membuang jenazah Angeline di luar kota Surabaya. Semula hendak dibuang di Batu. Namun, karena di sana tidak ada tempat sepi, akhirnya perjalanan dilanjutkan ke arah Cangar, Mojokerto.
Akhirnya pelaku memutuskan membuang jenazah di kawasan hutan Gajah Mungkur.
Penadah Mobil Ditangkap
Seusai kejadian , Rochmat menggadaikan mobil milik kakak Angeline ke salah seorang teman di Pasuruan dengan nominal Rp25 juta.
Handphone Angeline dan miliknya dibuang.
Lalu, Rochmat sembunyi dengan cara tinggal di sebuah indekos di Kota Malang.
Setelah kasus terungkap, polisi menangkap pria yang menadah mobil Xpander yang digadaikan Rochmat.
Si penadah itu ditangkap pada Kamis (8/6/2023) di Pasuruan.
Di rumah penadah, Polisi menemukan mobil yang menjadi saksi bisu kematian Angeline.
Penadah dan barang bukti kemudian diboyong ke Polrestabes Surabaya. Hari itu juga si penadah menyandang status saksi.
Akan tetapi, hingga Jumat (9/6/2023) sore, belum terlihat tanda-tanda polisi bakal menaikkan status penadah sebagai tersangka.
Gelar perkara pun belum dilaksanakan. Padahal, polisi hanya mempunyai waktu 1×24 untuk menentukan status penahanan.
Hingga sekarang polisi sekarang masih merahasiakan identitas penadah. Hanya saja, sempat disebutkan sumber si penadah adalah teman Rochmat.
Angeline merupakan anak kedua dari tiga bersaudara.
Di mata keluarga perempuan usia 22 tahun ini anak yang penurut.
Setiap pergi dari rumah selalu berpamitan.
BACA JUGA: Fakta-fakta Residivis Sadis di Batola, Perkosa Remaja Putri Lalu Bunuh Ayah Korban & Polisi Pun Jadi Sasarannya
Sosok Angelina
Sosok Angelina Nathania yang kini menempuh semester 6 di Ubaya juga dikenal cukup aktif di kampus.
Dekan Fakultas Hukum Ubaya, Dr. Yoan Nursari Simanjuntak mengungkap Angelina Nathania menjalani kehidupan kampus dengan baik dan memiliki hubungan sosial yang baik dengan teman-teman sejawatnya.
Angelina juga meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) baik, yakni 3,277.
“Selama proses belajar di Fakultas Hukum, tidak pernah terlihat adanya kendala dalam bersosialisasi dengan sesama mahasiswa maupun dosen. Kondisi ini membuat pihak kampus merasa sangat berduka atas peristiwa tragis yang menimpanya. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan kekuatan menghadapi cobaan ini,” ungkap Dr Yoan kepada SURYA.co.id, Jumat (9/6/2023) pagi.
Di acara persemayaman itu, terlihat banyak teman korban yang datang.
Stefanie salah seorang mahasiswi Ubaya mengatakan korban semasa hidup dikenal sosok yang humble dan jago bermain alat musik.
“Gak menyangka kisah Angeline seperti ini. Saya berharap ini yang terakhir tidak akan terjadi lagi,” ujar Stefani.(wartabanjar.com/berbagai sumber)
editor : didik tm
Polisi Ungkap Detik-detik Pembunuhan Angeline Nathania, Begini Siasat Licik Guru Les
Baca Lebih Lengkapnya Instal dari Playstore WartaBanjar.com