Diketahui, Jepang sebagai salah satu negara importir produk turunan sawit ini memanfaatkan biomassa tersebut untuk digunakan sebagai pembangkit listrik dengan skema Feed-in Tariff.
Bahkan Pemerintah Jepang melalui Ministry of Economy, Trade and Industry (METI) mengeluarkan kebijakan insentif bagi perusahaan pembangkit listrik yang menggunakan produk turunan sawit ini sebagai bahan bakunya.
“Dengan potensi produk yang banyak dan bervariasi, potensi devisa ekspor yang dihasilkan serta peluang pasar yang cemerlang, menjadikan cangkang sawit tidak bisa hanya dianggap sebagai biomassa atau limbah, namun prospek produk ini jauh lebih besar,” ucap Suparmi.
Ekspor perdana cangkang kelapa sawit dari Kalsel secara langsung ke Jepang sebanyak 22.000 ton merupakan momentum awal serta menjadi stimulus bagi para pelaku usaha untuk bagaimana memanfaatkan potensi dan peluang tersebut.
Hal ini sesuai dengan arahan Gubernur Kalsel Sahbirin Noor untuk terus menggali potensi sumber energi alternatif berkelanjutan dan ramah lingkungan termasuk yang dihasilkan dari sektor perkebunan dalam hal ini dari turunan produk kelapa sawit.
Oleh karena itu, Pemerintah Provinsi Kalsel akan bersinergi dan berkolaborasi dengan para sawitpreneur untuk memanfaatkan peluang pasar yang ada secara maksimal dengan memainkan peran utama dalam pemanfaatan produk turunan sawit tersebut, baik menjadi alternatif energi yang ramah lingkungan atau produk bernilai ekonomi yang akan berdampak positif bagi peluang peningkatan perekonomian di Kalsel. (Aqu/MC Kalsel)