“Saya tidak melihat urgensinya, belum ketemu saya urgensinya pemberian pangkat itu,” ujar Fahmi seperti dikutip dari CNN Indonesia TV, Rabu (14/11).
“Potensi kontribusinya tidak kita ragukan, kemudian harus dengan pemberian pangkat tituler? itu masalahnya,” imbuhnya.
Ia menyebut bahwa pemberian gelar duta komponen cadangan kepada Deddy sebetulnya sudah cukup tanpa harus diberikan pangkat Letkol tituler.
“Saya kira penghargaan penunjukan sebagai duta, katakan duta komponen cadangan atau duta bela negara itu sudah cukup memadai,” kata dia.
Kritik juga datang dari Senayan. Anggora DPR Fraksi PDIP Tubagus Hasanuddin mengatakan pangkat tituler hanya diberikan jika tak ada lagi orang di TNI yang memiliki kemampuan.
Dia bertanya urgensi pemberian gelar itu untuk Deddy.
Sementara itu, Ketua Komisi I DPR Meutya Hafid meminta Kemenhan memberi penjelasan ke publik mengenai pangkat itu.
Dia mengaku tak dikabari Kemenhan sebelum pemberian pangkat kepada Deddy Corbuzier.
“Saya juga kaget jujur karena belum dikomunikasikan ke Komisi I. Jadi, ketika ditanya wartawan, kami juga sama tidak paham atau belum pahamnya ini untuk apa,” ucap Meutya di Kompleks Parlemen, Selasa (13/12).
Juru Bicara Menhan Prabowo, Dahnil Anzar Simanjuntak mengatakan bahwa keputusan Letkol Tituler sudah final dan menganggap polemik yang terjadi saat ini merupakan suatu hal wajar.
“Kalau kemudian ada polemik, tadi saya sebutkan ada like and dislike itu sesuatu yang wajar dan biasa muncul,” kata Dahnil.
Dahnil mengatakan pangkat Letkol Tituler diberikan kepada Deddy Corbuzier karena kemampuannya dalam komunikasi di media sosial untuk menyebarkan pesan-pesan kebangsaan.