WARTABANJAR.COM, BANJARBARU - Lapas Kelas IIB Banjarbaru terus melakukan berbagai upaya deteksi dini kesehatan para Warga Binaaan Pemasyarakatan (WBP) dengan metode jemput bola yaitu "LAKASI", Layanan Kesehatan Setiap Hari.

Kalapas Kelas IIB Banjarbaru melalui Kasi Binadik, Septyawan Kuspriyo Pratomo, menjelaskan bahwa dalam rangka mewujudkan pelayanan kesehatan yang optimal, Lapas Banjarbaru melakukan peningkatan pelayanan di bidang kesehatan bagi para WBP melalui LAKASI.

"Layanan Kesehatan Setiap Hari atau LAKASI dilakukan dengan metode jemput bola yaitu mendatangi secara langsung ke blok hunian. Seluruh WBP diblok tersebut, diperiksa kesehatannya secara bergantian oleh Dokter dan para Perawat, berupa pengecekan suhu tubuh, tekanan darah, serta pemeriksaan kesehatan lainnya." jelasnya

Dikatakan Septyawan, Lapas Banjarbaru memiliki tim medis yang terdiri dari seorang dokter dan empat orang perawat.

Setiap harinya berjaga di klinik agar setiap WBP yang datang memeriksakan kesehatannya dapat segera diberikan pelayanan.

Lebih lanjut, Septyawan menekankan agar WBP tidak perlu merasa sungkan jika ingin memeriksakan kesehatannya.

Seluruh layanan kesehatan juga diberikan secara gratis.

Septyawan juga mengajak seluruh WBP agar rajin mengecek kesehatan dan selalu menerapkan cara hidup yang sehat.

"Melalui peningkatan pelayanan kesehatan ini, diharapkan agar WBP selalu terjamin kesehatannya selama di dalam Lapas, "karena, mencegah lebih baik dari pada mengobati." tutupnya.

Sementara itu, Dokter Lapas Banjarbaru, Natasia Cindi Lestari, mengatakan para WBP sangat antusias dengan pelayanan kesehatan yang disediakan oleh Lapas Banjarbaru khususnya Layanan Kesehatan Setiap Hari atau LAKASI.

"Para WBP antusias mengikuti pemeriksaan kesehatan. Kami terus berupaya memberikan pelayanan kesehatan yang maksimal kepada WBP di sini. Apabila terdapat WBP yang mengalami gangguan kesehatan, maka langsung diadakan pemeriksaan lanjutan, pengobatan/rawat inap di klinik Lapas banjarbaru serta rujukan ke pelayanan kesehatan setempat jika diperlukan," pungkas Dokter Cindi, begitu ia biasa disapa. (edj)

Editor: Erna Djedi